Selasa, 08 Januari 2013

PERNIKAHAN

Media Pembelajaran Untuk SMA/MA/SMK

Mata Pelajaran : PAI
Materi : Perkawinan
Tingkat : SMA/MA/SMK
Bahan : Program Flash Media
Media : tayangan ijab qobul perkawinan

Langkah Penggunaan :
1.  Memanfaatkan Program Flash media dalam materi perkawinan ( Ijab Qobul )
2.  Guru memperlihatkan tayangan perkawinan melalui LCD
3.  Siswa memahami tayangan film perkawinan
4.  Siswa mengetahui tata cara ijab qobul yang benar.



Perkawinan merupakan kebutuhan fitri setiap manusia yang memberikan banyak hasil yang penting, di antaranya adalah: (http://Indonesian.Irib.ir)
  • Pembentukan sebuah keluarga yang di dalamnya seseorang dapat menemukan kedamaian pikiran. Orang yang tidak kawin bagaikan seekor burung tanpa sarang. Perkawinan merupakan perlindungan bagi seseorang yang merasa seolah-olah hilang di belantara kehidupan; orang dapat menemukan pasangan hidup yang akan berbagi dalam kesenangan dan penderitaan.
  • Gairah seksual merupakan keinginan yang kuat dan juga penting. Setiap orang harus mempunyai pasangan utnuk memenuhi kebutuhan seksualnya dalam lingkungan yang aman dan tenang. Orang harus menikmati kepuasan seksual dengan cara yang benar dan wajar. Orang-orang yang tidak mau kawin seringkali menderita ketidakteraturan baik secara fisik maupun psikologis. Ketidakteraturan semacam itu dan juga persoalan-persoalan tertentu merupakan akibat langsung dari penolakan kaum muda terhadap perkawinan.
  • Reproduksi atau sebagai wadah untuk melangsungkan keturunan. Melalui perkawinan, perkembangbiakan manusia akan berlanjut. Anak-anak adalah hasil dari perkawinan dan merupakan factor-faktor penting dalam memantapkan fondasi kelaurga dan juga merupakan sumber kebahagiaan sejati bagi orangtua mereka.
Harapan yang sering dikemukakan bagi pasangan yang sudah menikah adalah: 
  • Melakukan segala sesuatu bersama-sama
  • Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan pribadi yang mendalam
  • Mempunyai pendapat dan perasaan yang sama mengenai berbagai hal
  • Keinginan untuk selalu memperhatikan dan diperhatikan oleh pasangan
  • Sering melakukan percintaan dan bermesraan dengan pasangan
  • Hilangnya kebiasaan-kebiasaan buruk pasangan karena pengaruh dari rasa cinta kasih setelah perkawinan
  • Dapat beradaptasi dengan problem-problem yang terjadi dalam kehidupan perkawinan
  • Perkawinan yang hendak dijalani nantinya berbeda dengan perkawinan yang kurang menyenangkan seperti yang pernah dilihat dan ditemui sebelumnya.Menurut Yuwana dan Maramis (2003), harapan istri adalah seorang istri menginginkan dukungan dan pengukuhan, oleh karena dari kodratnya wanita memang tidak berusaha untuk berdiri sendiri. Mereka ingin tetap tergantung dan demi keamanan, mereka memerlukan dukungan dan pengukuhan dari pihak suaminya. Mereka menginginkan dukungan dalam semua aspek kehidupannya, dan dukungan itu adalah dari suami mereka. Sementara harapan suami adalah hal pertama yang diharapkan bagi suami terhadap istrinya ialah cinta dan pengabdian.
 
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan dan harapan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dengan penuh rasa cinta, mendapatkan keturunan, memenuhi kebutuhan hidup jasmani dan rohani, dan menghindari perzinahan sehingga tercipta ketenangan dan ketentraman jiwa.


Alasan-Alasan Melakukan Perkawinan

Pendapat Bornstein & Bornstein (dalam Septriasih, 2004), alas an yang mendasari individu melakukan suatu perkawinan adalah cinta, kebutuhan persahabatan dan harapan terpenuhinya pengembangan diri.

Menurut Duvall, (1996), ada beberapa alasan mengapa individu terlibat dalam perkawinan, yaitu :
  • Untuk sekedar kawin, karena banyak rekan yang telah melangsungkan perkawinan.
  • Untuk meluputkan diri dari beban hidup
  • Untuk mengobati patah hati 
  • Adanya tekanan dari keluarga
  • Daya tarik seksual
  • Sekedar menikmati kesenangan.
Selain pendapat diatas, Duvall menambahkan alasan lain yang lebih obyektif dan lebih dapat diterima, yaitu alasan bahwa tiap individu membutuhkan teman hidup yang dapat memberikan cinta kasih serta keinginan untuk memiliki keturunan.


Penyesuaian Perkawinan

Ada beberapa ahli Sinha dan Mukerjee mendefinisikan penyesuaian perkawinan sebagai suatu bagian dimana terdapat sebuah perasaan bahagia antara suami dan istri, kepuasaan dalam perkawinannya, pemberian perhatian yang saling menguntungkan, saling peduli, saling mengerti dan saling menerima pasangan dan juga orang lain yang ada disekitar.
Scheimers (dalam bachtiar, 2004) menyebutkan bahwa konsep penyesuaian perkawinan pada dasarnya merupakan suatu sesi untuk hidup secara efektif dan bermanfaat dalam menghadapi tuntutan sehari-hari, perubahan-perubahan, tanggung jawab, relasi dan harapan-harapan dengan mengunakan ketenangan hati dan segala sesuatu yang merupakan bagian dari perkawinan. Dan dari respon terhadap penyesuaian itu, apakah suatu hal itu dinilai baik atau buruk, dapat dianggap sebagai suatu usaha dari individu untuk mengurangi atau melarikan diri dari tekanan dalam usaha untuk memperbaiki kondisi equilibrium.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar